Faktor-faktor lingkungan tidak berhubungan langsung dengan fungsi otak, namun memengaruhi dengan hal-hal yang berasal dari luar diri seperti stres di rumah atau tempat kerja, menghadapi kehilangan orang yang disayangi, atau kejadian traumatis. Kadang peneliti menyebutnya faktor-faktor sosiologi atau psikososial.
Stres dan Depresi
Tampaknya ada hubungan yang rumit antara situasi yang menekan, pikiran kita dan reaksi tubuh terhadap stres, dengan timbulnya depresi klinis. Kehilangan orang yang disayangi seperti keluarga, kehilangan pekerjaan, baru mengakhiri hubungan dengan pasangan seringkali sangat negatif dan traumatis sehingga menyebabkan stres bagi banyak orang. Meskipun terkadang stres juga mengikuti peristiwa-peristiwa positif seperti menjelang pernikahan, pindah ke luar kota, atau memulai pekerjaan baru.
Namun beberapa orang terkadang bisa menjadi depresi bahkan ketika hanya sedikit atau tidak ada peristiwa yang membuat stres dalam hidupnya, dan semuanya terlihat baik-baik saja. Dan satu jenis stressor atau sumber tekanan yang sama belum tentu menciptakan depresi pada semua orang.
Peneliti memiliki teori yang dinamakan “efek menyulut” atau “hipotesa pemekaan-penyulutan.” Teori ini menduga bahwa episode depresif awal menyulut perubahan dalam kimiawi otak dan sistem limbik yang membuat seseorang menjadi lebih rentan terhadap episode depresi berikutnya. Seperti saat mencoba membesarkan nyala api unggun, sejak penyulutan episode depresif awal, stressor atau sumber tekanan yang kecil diibaratkan seperti potongan-potongan kayu atau sampah kecil yang akan memudahkan terjadinya episode depresif berikutnya seperti.
Beberapa orang bisa menjadi depresi sebagai akibat dari menghadapi stres kronis. Misalnya menanggung banyak pekerjaan dalam satu waktu, hidup di lingkungan yang suka menyakiti dan menghina; seseorang yang baru memasuki dunia dewasa untuk pertama kali, orang paruh baya yang sedang menyesuaikan diri dengan kesehatan yang menurun, persiapan pensiun, dan sebagainya.
Sebuah teori lain bernama “ketidaberdayaan yang termaklumi” menjelaskan bagaimana pengalaman yang penuh stres dan berulang, seterusnya membuat seseorang memiliki keyakinan bahwa dia tidak memiliki kendali atas sebagian besar hal dalam kehidupannya.
Peristiwa Traumatis
Banyak orang yang melaporkan bahwa sebuah peristiwa traumatis terjadi sebelum mereka menjadi depresi. Pengalaman menyakitkan seperti kematian, perceraian, penyakit yang sulit disembuhkan, atau bencana alam, seringkali menjadi pemicu depresi klinis. Terutama ketika seseorang mengalami kesulitan atau tidak berinisiatif untuk mendapatkan pertolongan.
Proses penyelesaian masalah juga berhubungan dengan proses pemulihan seseorang dari depresi. Jika proses operasi yang seseorang inginkan terasa menyakitkan dan lama, atau proses perceraian yang membutuhkan perhitungan pembagian harta dan hak asuh anak, proses penyembuhan dari depresi bisa menjadi lebih lama.
Kecuali jika seseorang memiliki motivasi dan pandangan yang positif terhadap proses perbaikan hidupnya. Misalnya seseorang yang sudah lama merawat dirinya sendiri dengan pengobatan alternatif akan merasa bersyukur melewati proses medis yang lebih layak dan profesional, dan seseorang yang melalui proses perceraian untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat atau penuh kekerasan, tentunya proses penyembuhan dari depresi dapat terjadi lebih cepat.
Masa Kecil Yang Sulit
Orang yang mengalami depresi klinis biasanya juga pernah mengalami kesulitan parah di masa kecil. Kesulitan-kesulitan ini bisa meliputi kekerasan fisik atau seksual, banyak masalah keluarga selama pengasuhan, perpisahan dari orangtua, pengabaian emosional, atau orangtua yang memiliki penyakit kejiwaan.
Sebagian peneliti percaya bahwa masa kecil yang bermasalah dapat memicu kemunculan awal depresi (episode awal terjadi sebelum usia 20). Peristiwa yang paling berpengaruh terhadap munculnya depresi klinis biasanya perpisahan atau kematian orangtua sebelum anak berusia 11 tahun.
Sebuah teori mengatakan bahwa anak-anak yang mengalami ketidakbahagiaan yang luarbiasa ketika tumbuh akan mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dalam hidupnya seperti pubertas dan memulai kehidupan dan peran sebagai orang dewasa.
Teori lain menduga bahwa anak-anak ini bisa jadi kekurangan perkembangan emosional yang seharusnya atau kerusakan emosional membuat mereka menjadi rentan memiliki depresi.
Mengalami kesulitan-kesulitan besar ketika anak-anak membuat seseorang memiliki rasa harga diri yang rendah, merasa tak memiliki kemampuan, dan menjadi bergantung pada orang lain untuk membuat mereka merasa baik tentang diri mereka sendiri. Misalnya dengan berusaha keras menuruti perintah agar dinilai baik dan penurut, atau berulah dan berperilaku merusak untuk menarik perhatian.
Watak seperti ini dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi. Meski sebuah teori lain mengatakan pengalaman-pengalaman di awal kehidupan dapat memengaruhi perkembang sistem limbik dalam otak. Jika seorang anak mengalami kesulitan emosional dan merasa tidak aman, ini dapat memengaruhi kemampuannya untuk beradaptasi terhadap lingkungan baru dan mengatur emosi.
Selama Perang Dunia II sejumlah anak yang dipisahkan dari ibu mereka menunjukkan bahwa mereka menjadi depresi setelah melalui beberapa tahap berkabung. Pertama, anak-anak itu menangis keras memanggil ibunya. Kemudian mereka menjadi sangat gelisah. Setelah itu mereka menjadi putus asa dan diam. Terakhir, mereka bersikap menarik diri.
Stres dan Depresi
![]() |
| credit: mentalhealthamerica |
Tampaknya ada hubungan yang rumit antara situasi yang menekan, pikiran kita dan reaksi tubuh terhadap stres, dengan timbulnya depresi klinis. Kehilangan orang yang disayangi seperti keluarga, kehilangan pekerjaan, baru mengakhiri hubungan dengan pasangan seringkali sangat negatif dan traumatis sehingga menyebabkan stres bagi banyak orang. Meskipun terkadang stres juga mengikuti peristiwa-peristiwa positif seperti menjelang pernikahan, pindah ke luar kota, atau memulai pekerjaan baru.
Namun beberapa orang terkadang bisa menjadi depresi bahkan ketika hanya sedikit atau tidak ada peristiwa yang membuat stres dalam hidupnya, dan semuanya terlihat baik-baik saja. Dan satu jenis stressor atau sumber tekanan yang sama belum tentu menciptakan depresi pada semua orang.
Peneliti memiliki teori yang dinamakan “efek menyulut” atau “hipotesa pemekaan-penyulutan.” Teori ini menduga bahwa episode depresif awal menyulut perubahan dalam kimiawi otak dan sistem limbik yang membuat seseorang menjadi lebih rentan terhadap episode depresi berikutnya. Seperti saat mencoba membesarkan nyala api unggun, sejak penyulutan episode depresif awal, stressor atau sumber tekanan yang kecil diibaratkan seperti potongan-potongan kayu atau sampah kecil yang akan memudahkan terjadinya episode depresif berikutnya seperti.
Beberapa orang bisa menjadi depresi sebagai akibat dari menghadapi stres kronis. Misalnya menanggung banyak pekerjaan dalam satu waktu, hidup di lingkungan yang suka menyakiti dan menghina; seseorang yang baru memasuki dunia dewasa untuk pertama kali, orang paruh baya yang sedang menyesuaikan diri dengan kesehatan yang menurun, persiapan pensiun, dan sebagainya.
Sebuah teori lain bernama “ketidaberdayaan yang termaklumi” menjelaskan bagaimana pengalaman yang penuh stres dan berulang, seterusnya membuat seseorang memiliki keyakinan bahwa dia tidak memiliki kendali atas sebagian besar hal dalam kehidupannya.
Peristiwa Traumatis
Banyak orang yang melaporkan bahwa sebuah peristiwa traumatis terjadi sebelum mereka menjadi depresi. Pengalaman menyakitkan seperti kematian, perceraian, penyakit yang sulit disembuhkan, atau bencana alam, seringkali menjadi pemicu depresi klinis. Terutama ketika seseorang mengalami kesulitan atau tidak berinisiatif untuk mendapatkan pertolongan.
Proses penyelesaian masalah juga berhubungan dengan proses pemulihan seseorang dari depresi. Jika proses operasi yang seseorang inginkan terasa menyakitkan dan lama, atau proses perceraian yang membutuhkan perhitungan pembagian harta dan hak asuh anak, proses penyembuhan dari depresi bisa menjadi lebih lama.
Kecuali jika seseorang memiliki motivasi dan pandangan yang positif terhadap proses perbaikan hidupnya. Misalnya seseorang yang sudah lama merawat dirinya sendiri dengan pengobatan alternatif akan merasa bersyukur melewati proses medis yang lebih layak dan profesional, dan seseorang yang melalui proses perceraian untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat atau penuh kekerasan, tentunya proses penyembuhan dari depresi dapat terjadi lebih cepat.
Masa Kecil Yang Sulit
Orang yang mengalami depresi klinis biasanya juga pernah mengalami kesulitan parah di masa kecil. Kesulitan-kesulitan ini bisa meliputi kekerasan fisik atau seksual, banyak masalah keluarga selama pengasuhan, perpisahan dari orangtua, pengabaian emosional, atau orangtua yang memiliki penyakit kejiwaan.
![]() |
| credit: psychcentral |
Sebuah teori mengatakan bahwa anak-anak yang mengalami ketidakbahagiaan yang luarbiasa ketika tumbuh akan mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan dalam hidupnya seperti pubertas dan memulai kehidupan dan peran sebagai orang dewasa.
Teori lain menduga bahwa anak-anak ini bisa jadi kekurangan perkembangan emosional yang seharusnya atau kerusakan emosional membuat mereka menjadi rentan memiliki depresi.
Mengalami kesulitan-kesulitan besar ketika anak-anak membuat seseorang memiliki rasa harga diri yang rendah, merasa tak memiliki kemampuan, dan menjadi bergantung pada orang lain untuk membuat mereka merasa baik tentang diri mereka sendiri. Misalnya dengan berusaha keras menuruti perintah agar dinilai baik dan penurut, atau berulah dan berperilaku merusak untuk menarik perhatian.
Watak seperti ini dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap depresi. Meski sebuah teori lain mengatakan pengalaman-pengalaman di awal kehidupan dapat memengaruhi perkembang sistem limbik dalam otak. Jika seorang anak mengalami kesulitan emosional dan merasa tidak aman, ini dapat memengaruhi kemampuannya untuk beradaptasi terhadap lingkungan baru dan mengatur emosi.
Selama Perang Dunia II sejumlah anak yang dipisahkan dari ibu mereka menunjukkan bahwa mereka menjadi depresi setelah melalui beberapa tahap berkabung. Pertama, anak-anak itu menangis keras memanggil ibunya. Kemudian mereka menjadi sangat gelisah. Setelah itu mereka menjadi putus asa dan diam. Terakhir, mereka bersikap menarik diri.
Reaksi berat ini dikenal sebagai depresi anaklitik. Tipe reaksi yang sama telah diamati dalam studi yang dilakukan terhadap monyet. Dalam studi ini, monyet-monyet itu melepaskan jumlah kortisol (hormon stres) yang tinggi selama masa berkabung/bersedih. Ditemukan bahwa semakin banyak kortisol dilepaskan kedalam darah, semakin parah depresi yang dialami para monyet tersebut. Sekitar setengah dari semua manusia yang mengalami depresi terdapat kadar kortisol yang tinggi didalam darah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar