Kamis, 27 Oktober 2016

Penyebab Biologis Depresi: Apa Yang Terjadi Didalam Otak?

Penyebab biologis depresi klinis masih terus dipelajari secara intensif. Perkembangan yang telah ada membantu kita memahami fungsi otak, pegaruh neurotransmitter dan hormon, dan proses-proses biologis lainnya, dan bagaimana proses-proses ini memengaruhi berkembangnya depresi.
Fungsi Otak

Otak adalah pusat perintah tubuh manusia. Otak mengendalikan fungsi-fungsi dasar tubuh kita, gerakan kita, pikiran serta emosi kita. Peneliti yang mempelajari depresi klinis cenderung melihat pada beberapa aspek fungsi otak termasuk struktur dari sistem limbik dan fungsi neurotransmitter dalam neuron.

Sistem Limbik adalah area dalam otak kita yang mengatur aktivitas seperti emosi dan dorongan fisik, dan juga respon terhadap stres. Ada berbagai struktur dari sistem limbik yang memiliki keutamaan khusus. Hipotalamus adalah struktur kecil yang berada di bagian dasar otak. Ia bertanggungjawab untuk banyak fungsi dasar seperti suhu tubuh, tidur, selera makan, reaksi stres, dan pengaturan aktivitas tubuh lainnya.

Hipotalamus juga mengendalikan fungsi kelenjar otak yang kemudian akan mengatur hormon-hormon utama.

Struktur lainya didalam sistem limbik yang berhubungan dengan reaksi emosional adalah amygdala dan hippocampus.

Aktivitas limbik sangatlah penting dan rumit sehingga gangguan di bagian manapun dari sistem ini, termasuk fungsi neurotransmitter, dapat memengaruhi suasana hati dan kebiasaan seseorang.

Neurotransmitter dan Neuron

Didalam otak, terdapat zat-zat kimiawi spesial yang disebut neurotransmitter yang memiliki banyak fungsi yang sangat penting. Mereka membantu menyalurkan pesan melewati struktur-struktur sel syaraf dalam otak. Sel-sel syaraf ini disebut neuron yang memiliki tugas mengendalikan aktivitas-aktivitas khusus.

Setiap orang memiliki antara 10 milyar hingga 100 milyar sel neuron di dalam otak. Setiap kali kita melakukan sesuatu, bereaksi, merasakan emosi, berpikir, neuron-neuron kita mengirimkan pesan dalam bentuk gerakan listrik dari satu sel ke sel lainnya.

Sengatan-sengatan listrik ini menjalar ke penjuru jalananan/neuron dalam kecepatan yang luarbiasa: kurang dari 1/5,000 (seperlima ribu) detik. Karena mereka bergerak sangat cepat, otak kita dapat bereaksi secara instan terhadap rangsangan seperti rasa sakit atau suhu yang ekstrim, misalnya menjatuhkan/melempar benda yang terlalu panas dari tangan.

Sebuah neuron terbuat dari tubuh sel, sebuah axon atau inti sel, dan banyak dendrit yang bercabang-cabang. Pesan-pesan kimiawi bergerak melewati jalan-jalan atau struktur-struktur neuron ini. Kemudian sengatannya bergerak melalui tubuh sel kemudian ke axon. Saat dia mencapai axon, sengatan listrik itu berubah menjadi gerakan kimiawi. Gerakan-gerakan kimiawi ini adalah neurotransmitter yang meneruskan pesan tersebut.

Neurotransmitter dilepaskan oleh axon dan membawa pesan dari satu neuron ke neuron lainnya. Ketika pesannya diangkut oleh cabang dendrit neuron terdekat, pesan itu berubah lagi menjadi gerakan listrik dan prosesnya diulang lagi. Neuron tidak bersentuhan satu sama lain. Pesan-pesan kimiawi menyeberang lewat dari satu neuron ke neuron lainnya melalui jarak kecil yang disebut sinapse, yang memisahkan neuron dari satu sama lain.

Neurotransmitter bergerak secara berurutan. Mereka dibentuk secara spesifik, sehingga setelah mereka melewati sebuah neuron dan keluar mengambang dalam sinapse, mereka bisa diterima oleh reseptor atau neuron-neuron penerima. Neurotransmitter kemudian dapat dihilangkan dari sinapse dengan cara tertentu.

Neurotransmitter pembawa pesan ini sebagian dipecah oleh zat kimia yang disebut monoamine oxidase, sementara sisanya kembali ke neuron tempat asalnya menunggu diaktifkan lagi jika ada menerima pesan yang sama. Ini adalah akhir dari satu proses. Namun pada gangguan depresi, proses dapat terjadi berulang kali sehingga disebut reuptake atau penggunaan ulang.

 Cara Kerja Neurotransmitter
  • Neuron menciptakan dan menyimpan neurotransmitter sampai dibutuhkan.
  • Neuron dirangsang oleh adanya tegangan listrik.
  • Tegangan listrik ini menyebabkan neurotransmitter terlepas keluar ke celah sinapse.
  • Neurotransmitter tersebut kemudian mengikat kepada penerima sel neuron terdekat yang sesuai untuk memicu respon terentu.

Dari 30-an neurotransmitter yang telah dikenali, peneliti menemukan hubungan antara depresi klinis dan fungsi tiga neurotransmitter utama: serotonin, norepinepherine, dan dopamine. Ketiga pengirim pesan ini bekerja dalam struktur-sruktur otak yang mengatur emosi, reaksi terhadap stres, dan dorongan fisik untuk tidur, selera makan, dan dorongan seksual. Struktur-struktur yang sangat diperhatikan oleh peneliti depresi meliputi sistem limbik dan hipotalamus.

Pengobatan dengan antidepresan bekerja efektif bagi sebagian orang karena obat ini mengatur jumlah spesifik neurotransmitter dalam otak. Namun peran neurotransmitter dalam depresi klinis belum sepenuhnya jelas. Misalnya, banyak penderita depresi menunjukkan rendahnya level neurotransmitter norepinepherine dalam otak. Penggunaan beberapa antidepresan dapat meningkatkan level norepinepherine dalam otak sehingga meringankan gejala depresi.

Di sisi lain, sebagian penderita depresi lainnya justru memiliki level norepinepherine yang tinggi. Dan ini juga bisa terjadi pada level neurotransmitter lainnya. Sehingga faktanya antidepresan memang tidak memberi manfaat yang sama untuk semua orang.

Hubungan neurotransmitter dan depresi klinis memang sudah dipelajari karena neurotransmitter hanya ada dalam jumlah yang sangat kecil, mereka hanya terdapat di berbagai lokasi saja didalam otak, dan mereka hilang atau dipecah sangat cepat setelah selesai digunakan. Karena neurotransmitter bergerak sangat cepat, mereka tidak bisa diukur secara langsung. Peneliti hanya bisa mengukur sisa-sisa penggunaannya di otak. Cairan sisa ini disebut metabolite dan bisa ditemukan dalam darah, urin, dan cairan batang otak. Dengan mengukur metabolite ini, peneliti dapat memahami efek perubahan neurotransmitter dalam otak.

Tidak diketahui apakah perubahan level neurotransmitter menyebabkan berkembangnya depresi, atau depresi menyebabkan perubahan neurotransmitter. Namun bisa jadi keduanya. Peneliti percaya bahwa kebiasaan seseorang bisa mengubah hubungan kimawi di dalam otak, begitu juga kimiawi dalam otak dapat memengaruhi kebiasan seseorang.

Misalnya, jika seseorang menerima banyak sumber stres atau mengalami trauma, ini dapat menyebabkan hubungan kimiawi di otaknya terpengaruh, dan mengakibatkan depresi klinis. Namun di sisi lain, orang yang sama juga bisa belajar untuk mengubah pikiran-pikiran, kebiasan, dan lingkungan depresifnya dan pulih dari masa-masa yang menekan. Ini juga dapat mengubah hubungan kimiawi di otak dan meringankan hingga menyembuhkan depresi.

Hormon dan Sistem Endokrin

Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar kecil dalam tubuh, yang menciptakan hormon dan melepaskannya kedalam darah. Hormon yang dilepaskan kedalam tubuh oleh kelenjar-kelenjar ini mengatur proses seperti reaksi terhadap stres dan perkembangan seksual.

Beberapa hormon pada sejumlah besar orang dengan depresi memiliki kadar yang tidak wajar dalam darahnya meskipun kelenjar-kelenjarnya sehat. Dipercaya bahwa ketidakteraturan hormonal ini berhubungan dengan gejala-gejala depresi seperti masalah selera makan dan tidur karena hormon-hormon tersebut berperan dalam aktivitas-aktivitas ini. Petunjuk berikutnya adalah orang-orang yang memiliki gangguan endorkin tertentu kadang mengembangkan kondisi depresi, dan beberapa orang yang memiliki depresi mengembangkan masalah-masalah endokrin meskipun kelenjar-kelenjarnya sehat.

Sistem endokrin biasanya menjaga kadar hormon agar tidak berlebih dengan proses arus-balik yang kompleks, seperti termostat atau alat pengukur suhu ruangan. Kadar hormon dalam tubuh selalu dimonitor. Ketika sebuah hormon naik ke level tertentu, kelenjarnya berhenti memproduksi dan melepaskan hormon tersebut. Ketika seseorang mengalami depresi proses pengawasan ini tidak berfungsi seperti seharusnya.

Sistem endokrin terhubung dengan hipotalamus yang mengendalikan banyak aktivitas tubuh. Hipotalamus juga mengatur kelenjar pituari/bawah otak yang kemudian mengendalikan pelepasan hormon kelenjar-kelenjar lain. Hipotalamus menggunakan beberapa neurotransmitter yang dihubungkan dengan depresi karena ia mengatur sistem endorkin. Neurotransmitter serotonin, norepinephrine, dan dopamine memiliki peran dalam pengaturan fungsi hormon.

Depresi klinis bisa jadi merupakan gejala gangguan yang ada pada organ-organ yang memproduksi hormon.

Kadar Kortisol Dalam Darah

Setengah dari penderita depresi memiliki jumlah berlebih hormon dalam darah yang disebut kortisol. Kortisol terdapat dalam kelenjar adrenalin. Kelenjar ini terletak dekat ginjal dan berfungsi membimbing kita saat bereaksi terhadap peristiwa yang menekan atau memicu stres.

Kortisol bisa tetap ada dalam kelenjar adrenalin meskipun seseorang sudah memiliki tingkat kortisol yang tinggi dalam darahnya. Hormon ini dipercaya berhubungan dengan depresi klinis karena kadarnya yang semula tinggi berkurang menjadi level normal ketika depresi hilang.

Hipotalamus di otak bisa jadi bertanggungjawab untuk level kortisol yang berlebihan dalam darah kita. Struktur di dasar otak ini bertanggungjawab memulai proses yang mengarah pada pegeluaran kortisol oleh kelenjar adrenalin.

Pertama-tama hipotalamus membuat hormon pelepas kortikotropik atau CRH (corticotrophic-releasing hormone). Kelenjar pituari/bawah otak kemudian dirangsang untuk melepaskan hormon adrenokorticotropik atau ACTH (adrenocorticotrophic hormone). Hormon ACTH ini kemudian membuat kelenjar adrenalin melepaskan kortisol dalam darah.

Jika sistem endokrin berfungsi dengan baik, hipotalamus memonitor kadar kortisol dalam darah. Ketika kadarnya naik, hipotalamus melambatkan pengaruhnya pada kelenjar pituari/bawah otak dalam memproduksi CRH. Saat kadar kortisol mulai menurun, hipotalamus menyebabkan kelenjar pituari memproduksi CRH lagi.

Pada orang yang depresi, hipotalamus bisa terus-menerus memengaruhi kelenjar pituari untuk memproduksi CRH, mengabaikan kadar kortisol yang sudah ada dalam darah sehingga jumlahnya menjadi berlebihan.

Penelitian lain dengan kortisol menunjukkan bahwa timing atau waktu pelepasan hormon CRH ini bisa jadi bermasalah pada orang yang depresi. Orang yang tidak menderita depresi cenderung menghasilkan kortison pada waktu-waktu tertentu dalam sehari. Kadar kortisol paling tinggi pada sekitar jam 8 pagi dan 4 sore, sementara kadar terendahnya adalah saat malam hari.

Siklus normal kadar kortisol ini tidak terjadi pada beberapa orang yang mengalami depresi. Misalnya, mereka mungkin memiliki kadar kortisol yang konsisten sepanjang waktu, atau kadar tertingginya justru saat tengah malam.

Kadar kortisol bisa diuji menggunakan tes yang dinamakan dexamethasone supression test (DST). Tes ini bukan untuk mendiagnosa depresi tetapi dapat digunakan untuk mengkonfirmasi diagnosa depresi pada sebagian orang. Tes ini meliputi memberikan dosis dexamethasone, yaitu kortisol sintetis atau buatan, kepada seseorang sebelum dia tidur di malam hari. Pada pukul 8 pagi esok harinya, darah orang tersebut diuji kadar kortisolnya. Kemudian dites lagi pada pukul 4 sore.

Pada orang-orang yang sehat, kadar kortisol turun pada awalnya, kemudian kembali ke normal ketika hipotalamus mengimbangi kadar dexamethasone dalam darah. Pada orang yang mengalami depresi parah, setidaknya setengahnya akan memberikan hasil yang tidak normal. Pelepasan kortisol tidak diturunkan kadarnya oleh hipotalamus, atau tidak ada perubahan sama sekali setelah menerima dexamethasone atau kortisol sintetis/buatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar