Minggu, 30 Oktober 2016

Memindai Otak Penderita Gangguan Kecemasan (Ansietas)

Studi yang dilakukan di Sekolah Ilmu Kedokteran Universitas Stanford membantu peneliti untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan biologis antara tipe-tipe gangguan kecemasan dan juga gangguan seperti depresi. Hubungan yang kacau antara bagian otak yang memproses rasa takut dan emosi, dengan kawasan-kawasan lain di otak boleh jadi merupakan tanda penting dari anxiety disorder atau gangguan kecemasan.

Studi yang diterbitkan 7 Desember 2009 dalan Arsip Umum Psikiatri ini menguji otak orang-orang dengan Gangguan Kecemasan Tergeneralisasi atau GAD (Generalized Anxiety Disorder), yaitu sebuah kondisi psikitari dimana pasien hidup setiap harinya dengan rasa cemas yang tidak tentu mengenai hal-hal yang dihadapi sehari-hari.
credit: peoi.net

Amygdala adalah sepasang struktur berukuran kacang almond di otak yang membungkus serat-serat syaraf di bagian tengah otak yang membantu memproses emosi, ingatan dan rasa takut. Peneliti telah mengetahui bahwa amygdala terlibat dalam gangguan kecemasan seperti GAD. Namun studi yang dilakukan di Stanford adalah yang pertama kali yang meninjau cukup dekat untuk mendeteksi jalur-jalur syaraf menuju dan berasal dari sub-bagian dari amygdala.

Pengamatan skala kecil seperti ini penting untuk memahami otak orang-orang dengan gangguan psikiatri, ujar ilmuwan syaraf Universitas Duke, Kevin LaBar, PhD. Meski tak terlibat dalam penelitiannya, dia berpendapat bahwa, “Jika kita ingin membedakan GAD dari gangguan kecemasan lainnya, kita mungkin harus melihat pada subregion ketimbang sinyal umum dari area ini. Metode penelitian ini sangat mengesankan.”

Psikiater universitas Stanford, Amit Etkin, MD, PhD, dan kolega-koleganya fokus pada bagian-bagian yang tertentu yang dapat dilihat melalui pembelajaran mengenai anatomi otak manusia. Mereka merekrut 16 orang dengan GAD dan 17 partisipan yang sehat secara psikologis dan memindai otak mereka menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional atau fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging), yang dapat mengukur turun-naik aliran darah yang disebabkan oleh perubahan aktivitas pada kawasan-kawasan yang berbeda-beda dalam otak. Setiap orang melewati 8 menit dalam scanner/pemindai fMRI dengan pikiran melamun bebas.

Para peneliti menganalisa data hasil untuk menentukan area mana saja yang terhubung secara berurutan. Awalnya mereka melihat pada satu subregion, yaitu amygdala basolateral, yang terletak di bagian alas/basis amygdala. Dalam partisipan yang sehat, mereka menemukan bahwa subregion tersebut terhubung kepada cuping occipital atau bagian belakang otak, cuping temporal yang terletak dibawah telinga, dan prefrontal cortex yang terletak didepan tepat dibalik dahi.

Region-region ini dikaitkan dengan proses auditori (suara) dan visual (penglihatan), begitu juga ingatan dan fungsi-fungsi kognitif/kecerdasan dan emosional tingkat tinggi.

Subregion lainnya, yang dikenal sebagai amygdala centromedial yag terletak di bagian atas amygdala, berhubungan dengan subcortial atau bagian-bagian otak yang lebih dalam. Hubungan-hubungan ini juga mengikutkan: thalamus yang terletak di bagian tengah otak dan berfungsi mengendalikan arus informasi melalui otak dan membantu mengatur kewaspadaan; batang otak, yang mengatur detak jantung, nafas dan pelepasan neurotransmitter seperti serotonin dan dopamine; dan cerebellum yang memiliki keriput tebal yang berada di belakang batang otak dan mengendalikan koordinasi motorik.

Hubungan-hubungan ini menguatkan apa yang telah ditemukan lebih dulu dalam pembelajaran anatomi hewan, ujar Amit Etkin, pemimpin penulis studi. Timnya juga menganalisa data fMRI dari 31 lebih orang yang sehat dan menemukan hasil yang sama.

Namun pada orang-orang dengan gangguan kecemasan GAD, hasil peninjauan menunjukkan pola yang berbeda. Dua region ini, amydgala basolateral dan centromedial, tetap mengirimkan pesan menuju target-target yang terpisah, tapi jalur komunikasinya campuraduk dan kacau.

credit: stanford medicine news center


Warna merah menunjukkan wilayah-wilayah otak dengan koneksi kuat dengan amygdala pada pasien penderita GAD,  sementara warna biru menandakan koneksi yang lemah. Wilayah merah berkomunikasi dengan kawasan-kawasan yang penting untuk daya perhatian dan mencerminkan kebiasaan penggunaan strategi kognitif seperti cemas dan pengalihan pada pasien gangguan kecemasan.

“Amygdala basolateral [pada orang dengan GAD] kurang terhubung dengan semua targetnya dan lebih terhubung dengan target-target centromedial,” ujar Amit Etkin. “Dan bagian centromedial kurang terhubung dengan target-target normalnya dan lebih terhubung dengan target-target basolateral.”

Para peneliti juga menemukan bahwa kedua region amydgala ini memiliki keterhubungan yang kurang dengan bagian otak yang bertanggungjawab menentukan nilai dari sebuah rangsangan.

Artinya orang dengan gangguan kecemasan ini sulit memisahkan situasi yang benar-benar mengkhawatirkan dengan gangguan atau ketidaknyamanan yang ringan. Di saat bersamaan, amygdala lebih terhubung dengan jaringan kendali eksekutif kortikal yang sebelumnya sudah dipahami berperan dalam menerapkan kendali kognitif atas emosi.

Hubungan kendali kognitif ini bisa jadi menjelaskan mengapa GAD terkarakteristik oleh kecemasan yang obsesif. Orang dengan gangguan ini merasa kewalahan oleh emosi dan takut jika mereka menghadapi/memproses emosi itu mereka akan hancur, atau perasaan seperti terdesak ke tepi jurang dan tahu bahwa tidak ada yang akan menangkap kita. Maka sebagai cara untuk menghindari menghadapi perasaan yang tidak mengenakkan, mereka mengalihkan perhatian mereka dengan cara memproses informasi dan rangsangan dengan kecemasan.

Berpikir yang berlebihan seperti itu mungkin baik jika dilakukan dalam jangka pendek tapi akan menjadi masalah jika sering dilakukan.

Para peneliti tidak bisa mengatakan pasti apakah ketidaknormalan hubungan ini muncul lebih dulu ataukah kecemasan yang berlebihan yang membentuk otak dengan mengubah paksa jalur-jalur syaraf tertentu. Meski demikian, pola-pola yang diungkap oleh pemindaian syaraf ini suatu hari dapat membantu psikiater mendiagnosa dan merawat penyakit ini.

Menurut sebuah studi pada tahun 2012 yang dilakukan oleh Sekolah Medis dan Kesehatan Masyarakat Universitas Wisconsin, pasien bisa dilatih untuk memperkuat ”materi putih” yang merupakan jembatan antara amygdala dengan bagian-bagian dengan otak, terutama anterior cingulate cortex yang merupakan pusat pengaturan emosi.

Layaknya latihan angkat beban untuk membangun otot, pasien bisa diajari untuk semakin baik dalam menoleransi ketidakpastian dan mengatur emosi terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan.

Langkah berikutnya, Etkin akan mempelajari pasien dengan gangguan kecemasan lain dan depresi, untuk melihat perbedaan hubungan pola amygdala pada gangguan yang berbeda-beda. Studi ini memberi gagasan jika suatu hari pemindaian otak dapat menjadi alat diagnosa tambahan dengan gejala-gejala yang sering terlewatkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar