Sebuah kejadian mendadak yang menyebabkan stres berat dapat berkembang menjadi gangguan neuropsikiatri yang serius yaitu gangguan stres pascatrauma atau PTSD (posttraumatic stress disorder) yang bisa bertahan selama bertahun-tahun.
Stres merupakan sebuah faktor utama bagi banyak gangguan neuropsikiatri. Namun selama ini gangguan-gangguan ini didasarkan pada perstiwa stres atau traumatis yang terjadi berulang, meski dalam beberapa kasus seperti PTSD sebuah trauma saja sudah cukup untuk memicu gangguan tersebut.
Studi menemukan bahwa protokol pendek dari stres (yang berangsung selama 40 menit) menguatkan pelepasan glutamat, yaitu transmitter eksitatori utama dalam prefrontal cortex (PFC). Ini disebabkan terutama oleh peningkatan jumlah gelembung sinyal bermuatan glutamat yang tersedia untuk dilepas ke sinapse.
Para penulis studi tersebut menemukan bahwa peningkatan pelepasan glutamat di PFC berlangsung selama setidaknya 24 jam setelah terjadinya stres. Mereka juga menemukan bahwa setelah 24 jam, terjadi pemberhentian pertumbuhan dendrit apikal atau sel penerima pada neuron yang mengandung reseptor glutamat, yang dapat diamati terjadi dalam PFC. Atropi atau pemberhentian pertumbuhan dendrit biasanya diukur setelah beberapa minggu stres kronis dalam model hewan berbasis stres.
Hasil studi ini mengubah cara tradisional dalam membedakan antara efek stres kronis dan akut. Satu kali pemaparan terhadap stres bisa memiliki konsekuensi struktural (atropi dendrit) dan fungsional (pelepasan glutamat) jangka panjang.
Referensi jurnal: Abstract for “Acute stress is not acute: sustained enhancement of glutamate release after acute stress involves readily releasable pool size and synapsin I activation” by L Musazzi, P Tornese, N Sala and M Popoli in Molecular Psychiatry. Published online October 4 2016 doi:10.1038/mp.2016.175
Stres merupakan sebuah faktor utama bagi banyak gangguan neuropsikiatri. Namun selama ini gangguan-gangguan ini didasarkan pada perstiwa stres atau traumatis yang terjadi berulang, meski dalam beberapa kasus seperti PTSD sebuah trauma saja sudah cukup untuk memicu gangguan tersebut.
Studi menemukan bahwa protokol pendek dari stres (yang berangsung selama 40 menit) menguatkan pelepasan glutamat, yaitu transmitter eksitatori utama dalam prefrontal cortex (PFC). Ini disebabkan terutama oleh peningkatan jumlah gelembung sinyal bermuatan glutamat yang tersedia untuk dilepas ke sinapse.
Para penulis studi tersebut menemukan bahwa peningkatan pelepasan glutamat di PFC berlangsung selama setidaknya 24 jam setelah terjadinya stres. Mereka juga menemukan bahwa setelah 24 jam, terjadi pemberhentian pertumbuhan dendrit apikal atau sel penerima pada neuron yang mengandung reseptor glutamat, yang dapat diamati terjadi dalam PFC. Atropi atau pemberhentian pertumbuhan dendrit biasanya diukur setelah beberapa minggu stres kronis dalam model hewan berbasis stres.
Hasil studi ini mengubah cara tradisional dalam membedakan antara efek stres kronis dan akut. Satu kali pemaparan terhadap stres bisa memiliki konsekuensi struktural (atropi dendrit) dan fungsional (pelepasan glutamat) jangka panjang.
Referensi jurnal: Abstract for “Acute stress is not acute: sustained enhancement of glutamate release after acute stress involves readily releasable pool size and synapsin I activation” by L Musazzi, P Tornese, N Sala and M Popoli in Molecular Psychiatry. Published online October 4 2016 doi:10.1038/mp.2016.175

Tidak ada komentar:
Posting Komentar