Menggunakan fMRI, sebuah studi melaporkan hubungan antara aktivasi fungsional yang menurun dengan ketebalan kortikal di otak penderita gangguan bipolar. Ketidaknormalan ini ditemukan pada pasien ketika tidak mengalami depresi ataupun mania, sehingga berarti terdapat basis strukutral untuk perubahan pada pemrosesan neural yang dapat menjelaskan mengapa penurunan kognitif tetap terjadi bahkan saat suasana hati normal.
Dalam studi pertama yang menaksir hubungan antara data MRI struktural dan fungsional pada gangguan bipolar, Dr. Shantanu Joshi dan kolega-koleganya di Universitas California, Los Angeles berfokus pada bagian-bagian otak yang berperan dalam disregulasi suasana hati pada gangguan ini. Mereka menguji otak 45 pasien bipolar dalam kondisi suasana hati terkendali atau tidak sedang berada dalam salah satu episode depresi maupun mania, dan 45 orang yang sehat.
Saat melakukan tugas yang dimaksudkan untuk mengaktifkan bagian-bagian spesifik otak, para pasien mengalami penurunan aktivasi, dibandingkan dengan kelompok orang yang sehat, dalam dua bagian otak yang berperan kritis untuk kendali penghambatan tindakan impulsif: inferior frontal cortex dan anterior cingulate cortex. Para pasien juga mengalami penurunan aktivasi di bagian superior frontal gyrus, bagian yang penting untuk perencanaan motorik dan pembuatan keputusan.
Dalam studi pertama yang menaksir hubungan antara data MRI struktural dan fungsional pada gangguan bipolar, Dr. Shantanu Joshi dan kolega-koleganya di Universitas California, Los Angeles berfokus pada bagian-bagian otak yang berperan dalam disregulasi suasana hati pada gangguan ini. Mereka menguji otak 45 pasien bipolar dalam kondisi suasana hati terkendali atau tidak sedang berada dalam salah satu episode depresi maupun mania, dan 45 orang yang sehat.
Saat melakukan tugas yang dimaksudkan untuk mengaktifkan bagian-bagian spesifik otak, para pasien mengalami penurunan aktivasi, dibandingkan dengan kelompok orang yang sehat, dalam dua bagian otak yang berperan kritis untuk kendali penghambatan tindakan impulsif: inferior frontal cortex dan anterior cingulate cortex. Para pasien juga mengalami penurunan aktivasi di bagian superior frontal gyrus, bagian yang penting untuk perencanaan motorik dan pembuatan keputusan.
![]() |
| credit: wikipedia |
"Area-area otak ini bisa jadi menyelubungi beberapa kesulitan kognitif yang dialami pasien bipolar yang bahkan sedang tidak mengalami episode suasana hati," Dr. Joshi berkata. Sampai studi ini dilakukan, sebelumnya peneliti memiliki memiliki wawasan yang sedikit tentang penyebab terselubung dari aktivitas otak fungsional yang abnormal dalam gangguan bipolar. Penemuan ini mendukung gagasan bahwa penurunan aktivasi pada bagian-bagian otak yang bertanggungjawab untuk kendali pencegahan dapat menjelaskan kecenderungan impulsif yang ada pada gangguan bipolar.
"Karena perubahan-perubahan ini terlihat pada pasien-pasien yang sedang tidak mengalami episode mood, ini bisa merefleksikan kelemahan yang berlanjut berhubungan denga pathofisiologi dari gangguan suasana hati parah yang melumpuhkan dan umum ini."
Menurut Dr. Joshi, studi ini memiliki implikasi potensial untuk menemukan tanda khas pencitraan struktur-fungsi yang dikenal sebagai biomarker untuk gangguan bipolar yang dapat digunakan untuk menambah informasi bagi studi-studi lebih lanjut di masa depan.
Referensi jurnal: Relationships Between Altered Functional Magnetic Resonance Imaging Activation and Cortical Thickness in Patients With Euthymic Bipolar I Disorder. Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging, 2016; 1 (6): 507 DOI: 10.1016/j.bpsc.2016.06.006

Tidak ada komentar:
Posting Komentar