Istilah "skizofrenia" yang memiliki konotasi sebuah penyakit otak kronis yang tak bisa disembuhkan harusnya dihilangkan dan diganti dengan sebutan seperti "sindrom spektrum psikosis," argumen dari seorang profesor psikiatri dalam situs kesehatan BMJ.com Feburari 2016 lalu.
Profesor Jim van Os di Pusat Medis Universitas Maastricht mengatakan banyak kondisi lainnya yang telah meminta pembaharuan klasifikasi psikiatri, terutama untuk istilah "skizofrenia." Jepang dan Korea Selatan telah berhenti menggunakan istilah ini.
Daftar resmi gangguan kejiwaan yang digunakan para dokter untuk mendiagnosa pasien bisa ditemukan dalam ICD-10 (International Classification of Diseases, revisi ke-10) dan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5).
Namun Profesor van Os berargumen bahwa klasifikasi tersebut rumit, terutama untuk penyakit psikotik.
Saat ini penyakit psikotik digolongkan bersama banyak kategori lain, termasuk skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan delusi, depresi atau gangguan bipolar dengan fitur psikotik, dan lain-lain, dia menjelaskan.
Tapi kategori-kategori ini "tidak mewakili diganosa penyakit terselubung, karena masih tidak diketahui; mereka cenderung mendeskripsikan bagaimana gejala bisa dikelompokkan, agar bisa mengelompokkan pasien."
Dokter biasanya akan berkata, "Kamu punya gejala psikosis dan mania, dan kita mengklasifikasikan itu sebagai gangguan skizoafektif." Jika gejala psikotik kamu hilang kita bisa menggolongkan ulang kondisinya menjadi gangguan bipolar. Jika di sisi lain gejala mania kamu hilang dan psikosismu menjadi kronis, kita bisa mendiagnosa ulang itu sebagai skizofrenia.
"Begitulah sistem kalsifikasi kita bekerja [saat ini]. Kia tidak cukup tahu untuk mendiagnosa penyakit yang sesungguhnya, sehingga kita menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan gejala."
Jika semua orang setuju dengan pengistilahan dalam ICD-10 dan DSM-5 dalam penalaran ini, maka tidak ada masalah, ujarnya. Namun, bukan seperti ini yang secara umum dikomunikasikan, terutama untuk kategori yang paling penting penyakit psikotik: skizofrenia.
Contohnya, Asosiasi Psikiatri Amerika yang menerbitkan DSM, dalam situsnya menjelaskan skizofrenia sebagai "sebuah gangguan otak yang kronis," dan jurnal-jurnal akademis mendeskripsikannya sebagai "gangguan syaraf yang melemahkan," sebuah "gangguan otak yang menghancurkan hidup dan berpotensi tinggi untuk diwariskan," atau sebagai sebuah "gangguan otak dengan sebagian besar faktor resiko genetis."
Bahasa seperti ini mengesankan sebuah penyakit otak genetis yang khusus, tulis van Os. Namun anehnya, tidak ada ungkapan-ungkapan seperti ini digunakan untuk kategori penyakit psikotik lainnya, meskipun mereka ada dalam 70% daftar penyakit psikotik.
Bukti ilmiah mengindikasikan bahwa kategori psikotik yang berbeda dapat dipandang sebagai bagian dari sindrom spektrum psikotik yang sama, dia menambahkan. Lagipula orang-orang dengan sindrom spektrum psikosis menunjukkan keragaman yang ekstrim (heterogeneity), baik antara kelompok orang yang berbeda maupun di kelompok yang sama, dalam psikopathologi, respon terhadap perawatan, dan hasil perawatan.
Dia percaya bahwa cara terbaik untuk memberitahu masyarakat dan memberikan diagnosa terhadap pasien adalah dengan melupakan skizofrenia yang "menghancurkan hidup" sebagai satu-satunya kategori yang penting "dan mulailah bersikap adil pada sindrom spektrum psikosis yang lebih luas dan heterogenus atau beragam yang ada dan nyata."
Dan dia berargumen bahwa ICD-11 nanti harus menghilangkan istilah "skizofrenia."
Profesor Jim van Os di Pusat Medis Universitas Maastricht mengatakan banyak kondisi lainnya yang telah meminta pembaharuan klasifikasi psikiatri, terutama untuk istilah "skizofrenia." Jepang dan Korea Selatan telah berhenti menggunakan istilah ini.
Daftar resmi gangguan kejiwaan yang digunakan para dokter untuk mendiagnosa pasien bisa ditemukan dalam ICD-10 (International Classification of Diseases, revisi ke-10) dan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5).
Namun Profesor van Os berargumen bahwa klasifikasi tersebut rumit, terutama untuk penyakit psikotik.
Saat ini penyakit psikotik digolongkan bersama banyak kategori lain, termasuk skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan delusi, depresi atau gangguan bipolar dengan fitur psikotik, dan lain-lain, dia menjelaskan.
Tapi kategori-kategori ini "tidak mewakili diganosa penyakit terselubung, karena masih tidak diketahui; mereka cenderung mendeskripsikan bagaimana gejala bisa dikelompokkan, agar bisa mengelompokkan pasien."
Dokter biasanya akan berkata, "Kamu punya gejala psikosis dan mania, dan kita mengklasifikasikan itu sebagai gangguan skizoafektif." Jika gejala psikotik kamu hilang kita bisa menggolongkan ulang kondisinya menjadi gangguan bipolar. Jika di sisi lain gejala mania kamu hilang dan psikosismu menjadi kronis, kita bisa mendiagnosa ulang itu sebagai skizofrenia.
"Begitulah sistem kalsifikasi kita bekerja [saat ini]. Kia tidak cukup tahu untuk mendiagnosa penyakit yang sesungguhnya, sehingga kita menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan gejala."
Jika semua orang setuju dengan pengistilahan dalam ICD-10 dan DSM-5 dalam penalaran ini, maka tidak ada masalah, ujarnya. Namun, bukan seperti ini yang secara umum dikomunikasikan, terutama untuk kategori yang paling penting penyakit psikotik: skizofrenia.
Contohnya, Asosiasi Psikiatri Amerika yang menerbitkan DSM, dalam situsnya menjelaskan skizofrenia sebagai "sebuah gangguan otak yang kronis," dan jurnal-jurnal akademis mendeskripsikannya sebagai "gangguan syaraf yang melemahkan," sebuah "gangguan otak yang menghancurkan hidup dan berpotensi tinggi untuk diwariskan," atau sebagai sebuah "gangguan otak dengan sebagian besar faktor resiko genetis."
Bahasa seperti ini mengesankan sebuah penyakit otak genetis yang khusus, tulis van Os. Namun anehnya, tidak ada ungkapan-ungkapan seperti ini digunakan untuk kategori penyakit psikotik lainnya, meskipun mereka ada dalam 70% daftar penyakit psikotik.
Bukti ilmiah mengindikasikan bahwa kategori psikotik yang berbeda dapat dipandang sebagai bagian dari sindrom spektrum psikotik yang sama, dia menambahkan. Lagipula orang-orang dengan sindrom spektrum psikosis menunjukkan keragaman yang ekstrim (heterogeneity), baik antara kelompok orang yang berbeda maupun di kelompok yang sama, dalam psikopathologi, respon terhadap perawatan, dan hasil perawatan.
Dia percaya bahwa cara terbaik untuk memberitahu masyarakat dan memberikan diagnosa terhadap pasien adalah dengan melupakan skizofrenia yang "menghancurkan hidup" sebagai satu-satunya kategori yang penting "dan mulailah bersikap adil pada sindrom spektrum psikosis yang lebih luas dan heterogenus atau beragam yang ada dan nyata."
Dan dia berargumen bahwa ICD-11 nanti harus menghilangkan istilah "skizofrenia."
Referensi jurnal: Jim van Os. “Schizophrenia” does not exist. BMJ, 2016; i375 DOI: 10.1136/bmj.i375

Tidak ada komentar:
Posting Komentar