Senin, 31 Oktober 2016

Mekanisme Otak Penderita Bipolar

General content & image credit: psycheducation
 
Tes pemindaian otak memang belum dapat menunjukkan perbedaan yang paling jelas antara otak penderita bipolar dan otak yang sehat. Meski saat ini telah ditemukan beberapa perbedaan yang paling konsisten yang dapat dipelajari. Bipolar adalah kondisi yang membuat seseorang menggunakan terlalu banyak emosi ketimbang kebiasaan.

Didalam otak penderita bipolar terjadi terlalu banyak aktivitas di pusat emosi, dan terlalu sedikit di frontal lobe atau cuping depan otak yang berfungsi untuk mencegah tindakan. Lebih lagi, perbedaan-perbedaan ini tetap ada bahkan ketika gejala-gejalanya tidak tampak.

Perbedaan Ukuran Otak

Banyak perbedaan dalam ukuran otak yang ditunjukkan dalam sejumlah studi terhadap pasien dengan gangguan suasana hati dapat dibalik setidaknya sebagian dengan perawatan yang efektif. Hal yang dapat diingat: bukti yang terus muncul menunjukkan bahwa setiap episode gejala suasana hati yang parah (episode depresi, mania, campuran, dan sebagainya) terkait dengan perbedaan yang semakin mencolok dalam ukuran otak, dengan demikian pengendalian gejala bipolar diduga dapat dilakukan dengan mencegah beberapa perubahan otak yang sayangnya terus meningkat setidaknya dalam beberapa bentuk gangguan bipolar.

Hal yang layak disetujui adalah bahwa frontal cortex yang merupakan pusat pembuatan keputusan dan pengendalian kebiasaan impulsif (bertindak tanpa perhitungan) menyusut ukurannya ketika gangguan bipolar dibiarkan berkembang. Ini pada dasarnya hasil yang sama yang telah dilihat dalam kasus-kasus parah depresi yang tidak dirawat. Artinya gangguan atau kekacauan mekanisme otak ini membentuk pola kekacauan yang sama, dan akan terus seperti itu kecuali disela oleh perubahan atau kompleksitas baru, dalam bentuk terapi ataupun obat-obatan yang akan mengubah pola tersebut.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa lithium mampu membalikkan penyusutan ini pada otak depan.

Lithium adalah salah satu obat SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) yang telah digunakan selama dua dekade saat ini. Pencitraan PET menunjukkan bahwa lithium mampu mencegah atau mengurangi episode depresi dan mencegah kecenderungan pasien untuk mencoba bunuh diri. Namun lithium juga memiliki efek samping potensial yang dapat memengaruhi ginjal, penderita penyakit jantung dan gangguan fungsi tiroid, dan juga memiliki kemampuan terapeutik yang terbatas, sebab membutuhkan pengawasan kadar darah untuk menghindari efek keracunan.

Berdasarkan penelitian pada hewan, lithium bekerja dengan mengubah lalu lintas transmisi hormon serotonin. Dari sel neuron asal, lithium dapat mendorong lebih banyak serotonin untuk dapat lewat ke sel neuron berikutnya. Kemudian ia juga menghambat protein yang membawa serotonin, sebab protein ini biasanya membersihkan serotonin pada celah sinapse antara sel neuron asal dan penerima, sehingga serotonin yang berlebih ini juga dapat diterima oleh sel penerima.

Perbedaan Fungsi Otak

Orang-orang dengan gangguan bipolar seringkali sulit menerjemahkan ekspresi wajah orang lain.



Warna biru berarti seluruh ekspresi wajah secara umum. Warna merah adalah wajah dengan tingkat emosi rendah. Warna kuning mewakili ekspresi wajah dengan tingkat emosi yang tinggi. Partisipan yang sehat menunjukkan kesalahan paling sedikit dalam mengenali ekspresi. Sementara pasien dengan gangguan kecemasan menempati posisi kedua lebih banyak dalam menerjemahkan ekspresi orang lain.

Diagram diatas menunjukkan hasil pengujian yang menunjukkan bahwa semua orang bisa salah menerjemahkan ekspresi, tetapi orang-orang dengan gangguan bipolar lebih banyak membuat kesalahan dalam mengenali ekspresi orang lain, bahkan lebih lebih tinggi dari pasien dengan gangguan kecemasan.

Ketika ditunjukkan ekspresi-ekspresi yang lebih dramatis, seperti marah atau terkejut orang-orang dengan bipolar membuat kesalahan dua kali lebih banyak dari orang tanpa gangguan mood ataupun kecemasan.

Kekeliruan menerjemahkan ekspresi seperti ini berpengaruh buruk bagi kecenderungan psikosis yang dimiliki sebagian pederita bipolar, seperti paranoia dan delusi. Dan ini dapat mengarah pada pengambilan tindakan yang impulsif seperti membuat masalah atau bertengkar dengan orang lain.

Membuat Keputusan Cepat Untuk Masalah Emosional

Bukti yang ada semakin menunjukkan bahwa bagian otak yang disebut medial preforntal cortex tidak aktif pada orang dengan gangguan bipolar bahkan ketika mereka sedang tidak menunjukkan gejala bipolar sama sekali. Artinya secara umum penderita gangguan bipolar tidak menggunakan bagian otak yang berfungsi untuk mencegah tindakan impulsif dan tanpa perhitungan sesuai situasi yang ada.

Sementara sebuah studi dilakukan sebuah tim di Australia terhadap orang yang sehat dan orang dengan gangguan bipolar, dengan cara memberikan tugas rumit memilah kata yang sebagiannya memiliki kesan emosional. Dan mereka mendapatkan hasil berikut:



Bagian yang berwarna merah adalah medial prefrontal cortex (MPFC). Bisa dilihat bahwa porsi dari bagian tersebut lebih aktif selama pengujian terhadap orang sehat yang tidak memiliki gangguan bipolar, dibandingkan dengan yang memiliki penyakit tersebut. Bagian yang bewarna biru/hijau adalah hippocampus, yang lebih aktif selama pengujian pada orang-orang dengan gangguan bipolar.

Para penulis studi ini mengatakan bahwa bagian dari frontal cortex atau otak depan ini yang sekiranya penting untuk mengubah kebiasaan seseorang dari respon yang biasa terjadi menjadi respon yang lebih fleksibel berdasarkan situasi yang ada. Sehingga salah satu konsekuensi dari memiliki gangguan bipolar adalah ketidakmampuan penderita untuk melakukan banyak tugas sekaligus atau memproses satu situasi yang penuh stimulus yang berbeda-beda atau hiruk-pikuk.


Terkadang pengobatan bisa sangat membantu sebagian orang. Namun perubahan yang terjadi dari pengobatan butuh waktu untuk mengubah kebiasaan otak untuk menggunakan fungsi-fungsi normalnya.
Potongan-potongan hasil pemindaian fMRI diatas menunjukkan bagian-bagian otak yang menjadi lebih aktif, tidak hanya medial frontal cortex tapi juga anterior cingulate gyrus yang memainkan peran utama dalam pengendalian emosi.

Psikosis Pada Gangguan Bipolar

Dulu ketika seorang pasien menunjukkan gejala-gejala psikosis seperti halusinasi suara atau visual, kebanyakan orang dan dokter akan berpikir bahwa pasien tersebut memiliki skizofrenia. Psikosis yang parah seperti keterputusan dengan realitas dalam berbagai bentuknya, akan langsung diartikan sebagai skizofrenia oleh banyak orang.

Padahal psikosis juga sangat bisa terjadi pada penderita bipolar, terutama bipolar tipe I. Berikut tabel yang menunjukkan betapa umumnya hal ini terjadi.



Dr. Goodwin dan Dr. Jamison mengulas banyak makalah penelitian tentang pasien dengan gangguan bipolar. Mereka menyimpulkan 26 studi yang menjelaskan jenis-jenis “fitur psikotik” yang terdapat pada pasien-pasien tersebut.


Gejala
Persentase Tingkat Keseringan Secara Umum
Persentase Variasi Tingkat Keseringan Dari 26 Studi Yang Digunakan
Delusi grandiose
47%
35-60%
Delusi yang menyiksa/paranoid
28%
18-65%
Halusinasi suara
18%
7-48%
Schneiderian 1st rank sx
18%
9-34%

Dalam tabel diatas bisa dilihat bahwa “delusi grandiose” menunjukkan frekuensi atau tingkat keseringan yag paling tinggi. Delusi grandiose adalah keyakinan yang “megah” tentang diri sendiri. Seperti keyakinan bahwa dirinya adalah nabi utusan Tuhan atau memiliki urusan penting dan darurat dengan Presiden atau Ratu negara. 47% adalah frekuensi rata-rata dari 26 studi yang dipelajari.

Kolom “persentase variasi tingkat keseringan” menunjukkan porsi yang paling rendah hingga yang paling tinggi diantara 26 studi tersebut: dalam satu studi, hanya 35% dari pasien yang memiliki delusi grandiose, sementara dalam studi lainnya 60% pasien memilikinya.

Selanjutnya 28% pasien memiliki paranoia atau delusi paranoid. Dalam paranoia seseorang bisa memiliki keyakinan bahwa orang-orang bersekongkol untuk mengejar dan mencelakai mereka. Dalam variasi yang paling tinggi, sebuah studi menunjukkan 65% atau 2 dari 3 pasien dengan gangguan bipolar I memiliki setidaknya satu jenis paranoia.

Artinya paranoid adalah fitur yang umum dari gangguan bipolar dibanding apa yang dianggap banyak dokter sebelumnya.

Begitu juga dengan halusinasi suara yang memiliki persentase rata-rata 18%. Meski tidak se-umum paranoia, dapat dilihat pada salah satu studi menunjukkan angka persentase 48% atau hampir setengah dari pasien dalam studi tersebut mengalami halusinasi suara.

Sementara “Schneiderian First Rank Symptoms” atau gejala-gejala Schneiderian peringkat pertama biasanya dikaitkan dengan diagnosa skizofrenia. Gejala ini meliputi delusi, seperti pasien merasa bahwa pikirannya bisa didengar atau dibaca oleh orang lain. Dan gejala-gejala seperti ini juga dapat terjadi pada gangguan bipolar.

Hingga hari ini masih sulit membedakan antara skizofrenia dengan gangguan bipolar. Namun salah satu gejala yang dapat diamati adalah episode depresi yang terjadi berulang atau dalam siklus yang biasanya terjadi pada gangguan bipolar, tapi tidak umum terjadi secara episodik dalam skizofrenia.

Generalized Anxiety Disorder Atau Bipolar II?

Sebagian orang yang mengalami gangguan kecemasan, bahkan yang sudah didiagnosa dengan GAD, kondisi mereka merespon baik terhadap obat penstabil mood yang biasa digunakan untuk gangguan bipolar. Kecemasan adalah bagian dari gejala bipolar. Lalu bagaimana membedakan apakah seseorang menderita GAD atau bipolar II?
Ada setidaknya dua gejala yang jika terjadi dalam tingkat ekstrim dapat merespon baik terhadap penstabil mood:
  • Insomnia parah; dan
  • Kesulitan berkonsentrasi
Itu adalah gejala-gejala GAD.  Dan tampaknya hanya sedikit psikiater yang melihat kecocokan antara kedua kondisi GAD dan bipolar II atau spektrum bipolar secara luas.
Berikut perbandingan kriteria gejala GAD dan bipolar:


Gangguan Kecemasan Tergeneralisasi (GAD)
Gangguan Bipolar (secara luas)
Kognitif
  • Khawatir
  • Sulit berkonsentrasi
Energi
  • Tidak tenang
  • Ketegangan, gelisah/susah beristirahat
  • Mudah lelah
  • Sulit tidur/sering terbangun
Suasana Hati
  • Mudah kesal/tersinggung
Kognitif

  • Kecemasan dimanapun dan kapanpun
  • Sulit berkonsentrasi
Energi
  • Pergerakan motorik yang tidak tenang
  • Gelisah/susah beristirahat
  • Kelelahan ekstrim
  • Insomnia parah
Suasana Hati
  • Dysphoria (perasaan tidak puas, tidak tenang, seolah ada sesuatu yang hilang atau tidak pada tempatnya), mudah kesal atau tersinggung

Dari sini diharapkan orang-orang yang memiliki gejala GAD, tapi tidak merespon baik terhadap setidaknya tiga jenis antidepresan sebaiknya mempertimbangkan untuk mencoba penstabil mood. Semua ini bertujuan agar kondisi apapun yang kita miliki bisa mendapatkan perawatan yang tepat.

Sisi Positif Bipolar

Banyak laporan yang mengatakan bahwa penderita bipolar seringkali menunjukkan kreativitas dan jenis kecerdasan yang luarbiasa, karismatik dan memiliki kedalaman pikiran yang bahkan sulit ditangkap oleh dokter mereka sendiri.

Meski terkadang komentar-komentar seperti ini justru bisa menjadi sesuatu yang negatif bagi banyak penderita bipolar, sebab banyak dari mereka tidak merasakan keuntungan seperti itu dalam hidup mereka sendiri.

Namun jika melihat lebih luas dan lebih jauh di masa depan, secara teori bipolar bisa memberi manfaat bagi perkembangan evolusi manusia. Jika gen bipolar yang berkembang dalam diri keturunan kita di masa depan ada dalam dosis yang cukup kecil, maka banyak sisi positif dari bipolar dapat membangun komunitas manusia yang sama sekali berbeda. Orang akan memiliki berbagai karakterisitik kecerdasan lain seperti kreativitas, melihat pola pada hal-hal yang sekilas tidak berhubungan, kesiapan beradaptasi terhadap perubahan dan perbedaan dalam sosial, penilaian yang baik terhadap bahaya, berani mengambil resiko, dan memiliki lebih banyak energi untuk produktivitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar