Jumat, 11 November 2016

Nutrisi Untuk Bipolar

Lemak Omega-3

Sumber makanan yang paling kaya omega-3 adalah ikan seperti salmon, sarden, dan haring.

Survey menunjukkan bahwa semakin tinggi populasi pemakan ikan di sebuah negara maka semakin rendah tingkat depresinya.

Dalam sebuah studi yang mencoba memperkirakan berbagai penyakit berhubungan dengan rendahnya kadar asam lemak omega-3, gangguan bipolar muncul di posisi atas sebagai penyakit nomor satu yang berkaitan dengan kurangnya asupan lemak omega-3.

Omega-3 membantu membangun koneksi syaraf dan juga tempat penerima bagi neurotransmitter, sehingga lebih omega-3 terdapat dalam darah, semakin banyak pula serotonin yang dibuat oleh tubuh dan semakin responsif tubuh dan otak kita terhadap efek serotonin tersebut.

Seimbangkan kadar gula darah

Semua makanan berkarbohidrat dipecah menjadi glukosa dan otak kita membutuhkan glukosa untuk bekerja. Semakin tak seimbang gula darah, maka mood atau suasana hati juga akan tidak seimbang.

Mengkonsumsi banyak gula akan memberikan peningkatan dan penurunan energi yang tiba-tiba dan drastis karena jumlah glukosa dalam darah. Gejala-gejalanya bisa ditandai dengan kelelahan, mudah gelisah dan marah, pusing, insomnia, keringat berlebih (terutama saat malam), konsentrasi buruk dan mudah lupa, haus berlebihan, depresi dan sering menangis, gangguan pencernaan dan pandangan kabur.

Karena otak bergantung pada persediaan glukosa yang genap dan seimbang, tidak mengejutkan ketika diketahui gula telah dikaitkan dengan perilaku agresif, kecemasan, depresi, dan kelelahan.

Mengkonsumsi banyak gula dan karbohidrat murni seperti roti putih, nasi, mi, pasta dan sebagian besar makanan olahan, juga berkaitan dengan depresi karena makanan-makanan ini tak hanya memberi sedikit sekali persediaan nutrisi tapi juga terlalu banyak menggunakan vitamin B yang berguna untuk memperbaiki suasana hati (mengubah setiap satu sendok gula menjadi energi membutuhkan vitamin B). Gula juga sangat boros menggunakan nutrisi-nutrisi lain yang penting.

Hindari makanan-makanan ini dan coba mulailah kebiasaan mengkonsumsi makanan utuh, buah dan sayuran segar, serta sebisa mungkin hindari makanan olahan. Kafein dan alkohol juga sebaiknya dikurangi hingga jumlah minimum.

Magnesium

Magnesium adalah mineral yang membantu mengelola fungsi normal otot dan syaraf, menjadi irama detak jantung, membantu sistem kekebalan tubuh dan menjaga tulang tetap kuat.

Beberapa tanda kekurangan magnesium antara lain: otot gemetar atau kejang, kelemahan otot, insomnia, kegugupan, tekanan darah tinggi, detak jantung tak teratur, konstipasi atau sembelit, sawan, hiperaktivitas, depresi, kebingungan dan menurunnya selera makan.

Peran magnesium cukup menarik dalam kasus gangguan bipolar, karena kemiripan kimiawinya dengan lithium yang sering digunakan sebagai penstabil mood. Terdapat bukti bahwa lithium bisa menempel pada tempat-tempat di dalam sel dimana magnesium juga bisa menempel di tempat serupa.

Ada beberapa studi yang menunjukkan magnesium dapat menghentikan gejala-gejala mania atau siklus yang cepat. Magnesium dapat memblokir kalsium yang terlalu banyak kedalam sel yang bisa menganggu fungsi jantung dan otak.

Magnesium juga dapat membantu memperbaiki kualitas tidur. Terutama karena penderita bipolar sering mengalami pola tidur yang buruk setelah episode manic.

Magnesium banyak terdapat dalam sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, gandum utuh, alpukat, yogurt, pisang, buah kering, dark chocolate, dan banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar