Dua penyakit pertama yang dideskripsikan oleh para dokter di masa Yunani klasik adalah "mania" yang merupakan campuran dari kemarahan, amukan, dan euforia, dan "melancholia" yang ditandai dengan kesedihan.
Jules Angst dan Andreas Marneros menulis sebuah makalah yang menelusuri tulisan-tulisan kuno untuk observasi gangguan bipolar. Mereka menemuka bahwa ulasan dari manuskrip-manuskrip masa pra-Hippocratic mengungkapkan deskripsi "kondisi-kondisi tak wajar depresi dan rasa keagungan." Dengan kata lain, susana hati super tinggi dan super rendah.
Hippocrates (460-337 SM) dikenal sebagai "Bapak Ilmu Kedokteran" dan dokter masa kini masih melakukan tradisi mengambil sumpah Hippocratic. Beliau berteori bahwa otak adalah organ yang bertanggungjawab atau fungsi dan gangguan kejiwaan. Dia menulis,
"Orang harus tahu bahwa otak adalah satu-satunya asal kenikmatan dan kesenangan, tawa dan canda, kesedihan dan kekhawatiran begitu juga ketidakpuasan, dan yang membedakan antara merasa malu, baik, buru, bahagia ... Melalui otak kita menjadi gila, marah, kita mengembangkan kecemasa dan ketakutan, yang dapat terjadi di malah ataupun siang hari, kita mederita kurang tidur, kita membuat kesalahan dan kecemasan yang tak berdasar, kita kehilangan kemampuan untuk mengenali realitas, kita menjadi apatis dan kita tidak dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial ... Kita menderita semua yang disebutkan diatas melalui otak ketika dia sakit..."
Menurut Socrates dan Plato, mania adalah "kondisi ilahiah." Bahkan Plato menulis bahwa ada dua jenis mania, yang satu melibatkan "ketegangan mental yang muncul dari sumber lahiriah" dan yang satunya lagi adalah "ilahiah atau terinspirasi, dengan dewa Apollo sebagai sumber dari inspirasi itu."
Filsuf Democritus bertanya pada Hippocrates, "Mengapa orang-orang luarbiasa dalam dunia filosofi, politik atau seni bersifat melankolis?" Setelah banyak berdiskusi, Hippocrates menyimpulkan bahwa Democritus tidak menderita melankolia, melainkan bahwa dia memang sekedar orang yang jenius.
Filsuf Democritus bertanya pada Hippocrates, "Mengapa orang-orang luarbiasa dalam dunia filosofi, politik atau seni bersifat melankolis?" Setelah banyak berdiskusi, Hippocrates menyimpulkan bahwa Democritus tidak menderita melankolia, melainkan bahwa dia memang sekedar orang yang jenius.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar