Kamis, 24 November 2016

Efek Jangka Panjang Dapat Dipicu Oleh Satu Sumber/Kejadian Stres


Sebuah kejadian mendadak yang menyebabkan stres berat dapat berkembang menjadi gangguan neuropsikiatri yang serius yaitu gangguan stres pascatrauma atau PTSD (posttraumatic stress disorder) yang bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Stres merupakan sebuah faktor utama bagi banyak gangguan neuropsikiatri. Namun selama ini gangguan-gangguan ini didasarkan pada perstiwa stres atau traumatis yang terjadi berulang, meski dalam beberapa kasus seperti PTSD sebuah trauma saja sudah cukup untuk memicu gangguan tersebut.

Studi menemukan bahwa protokol pendek dari stres (yang berangsung selama 40 menit) menguatkan pelepasan glutamat, yaitu transmitter eksitatori utama dalam prefrontal cortex (PFC). Ini disebabkan terutama oleh peningkatan jumlah gelembung sinyal bermuatan glutamat yang tersedia untuk dilepas ke sinapse.

Para penulis studi tersebut menemukan bahwa peningkatan pelepasan glutamat di PFC berlangsung selama setidaknya 24 jam setelah terjadinya stres. Mereka juga menemukan bahwa setelah 24 jam, terjadi pemberhentian pertumbuhan dendrit apikal atau sel penerima pada neuron yang mengandung reseptor glutamat, yang dapat diamati terjadi dalam PFC. Atropi atau pemberhentian pertumbuhan dendrit biasanya diukur setelah beberapa minggu stres kronis dalam model hewan berbasis stres.

Hasil studi ini mengubah cara tradisional dalam membedakan antara efek stres kronis dan akut. Satu kali pemaparan terhadap stres bisa memiliki konsekuensi struktural (atropi dendrit) dan fungsional (pelepasan glutamat) jangka panjang.

Referensi jurnal: Abstract for “Acute stress is not acute: sustained enhancement of glutamate release after acute stress involves readily releasable pool size and synapsin I activation” by L Musazzi, P Tornese, N Sala and M Popoli in Molecular Psychiatry. Published online October 4 2016 doi:10.1038/mp.2016.175

Selasa, 22 November 2016

Kebijakan Kesehatan Jiwa Di Indonesia dan Perlakuan Terhadap Pasien Gangguan Psikologis

Dalam Konferensi pers Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada tanggal 10 Oktober 2016, WFMH (World Federation for Mental Health) atau Federasi Kesehatan Jiwa Sedunia salah satunya membahas tentang PFA (Psychological First Aid) atau Pertolongan Pertama konidisi Psikologis.

PFA adalah tindakan yang meliputi:
  • Prepare (persiapan sebelum bencana tiba)
  • Look (melihat langsung)
  • Listen (mendengarkan cerita korban selamat)
  • Link (bersinergi dengan pihak berwenang)
PFA seharusnya sesuatu yang umum diterapkan di Indonesia mengingat kondisi alam negara kita yang dilingkari dengan gunung berapi aktif atau Ring of Fire dan kerap terjadi bencana alam seperti banji, gempa bumi dan longsor. Ini akan dapat membantu bagi korban yang mengalami trauma atau PTSD (Post-Traumatic Disorder).

Tekanan kejiwaan juga bersifat universal sehingga kebijakannya bisa disesuaikan dengan kondisi sosiodemografi di setiap wilayah yang berbeda-beda. Sehingga dapat diaplikasi untuk berbagai masalah psikologis yang terjadi di pedalaman maupun perkotaan. Seperti di sekolah untuk membantu masalah bullying ataupun kesulitan belajar. Sehingga perhatian terhadap kesehatan mental bisa dilakukan oleh orang lain diluar ahli kesehatan jiwa maupun non-profesional. Sebab

Sementara itu stigma dan diskriminasi masih sering dialami penderita gangguan kejiwaan atau ODGJ. Kehilangan pendidikan, pekerjaan, perceraian, dipasung dan harta bendanya dirampas.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi atau tingkat kelaziman gangguan mental emosional dengan gejala-gejala depresi dan gangguan kecemasan adalah sebesar 6% untuk usia 15 tahun keatas, yang artinya ada sekitar 14 juta remaja di Indonesia yang mengalami gejala gangguan depresi dan kecemasan.

Sementara untuk gangguan jiwa yang lebih berat seperti spektrum psikosis atau yang lebih dikenal dengan skizofrenia memiliki angka 1,7 per 1000 penduduk, atau sekitar 400,000 orang di seluruh Indonesia.

Dan diantara semua itu, 14,3% atau sekitar 57.000 orang pernah atau sedang dipasung. Dan boleh diperhatikan bahwa 18,2% pemasungan seperti ini terjadi di pedesaan, dan 10,7% terjadi di perkotaan. (depkes.go.id)

Dikutip dari rappler.com, Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian Psikiatri, dr. Nurmiati Amir mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia "tidak punya data mengenai kesehatan dan gangguan jiwa. Kalaupun ada data mengenai kematian bunuh diri, biasanya dari Mabes [Polri]."

BPJS atau Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan juga tidak membayar pasien rumah sakit yang dirawat akibat percobaan bunuh diri. Sebab tenaga kesehatan tidak cenderung memeriksa alasan pasien melakukannya.

Perlakuan yang tidak menganggap serius juga sesekali bisa dihadapai pasien yang mengisi formulir untuk mendapatkan bantuan BPJS untuk kondisi kejiwaan, terutama dari petugas-petugas sipil yang tidak memiliki pengetahuan tentang kesehatan. Tapi sebagai motivasi hal seperti ini layak dihadapi dan dibiarkan berlalu demi mendapatkan perawatan kesehatan jiwa, dan itu merupakan hak setiap orang di Indonesia.

dr. Numiarti menambahkan bahwa ada lebih banyak data mengani gizi dibandingkan kesehatan dan gangguan jiwa yang bisa diperoleh dari Kementrian Kesehatan RI.

"Kalau ada yang minum racun, jangan dilihat dia minum racunnya, tapi kenapa dia minum racun. Tidak ada orang yang sehat yang mau melukai diri sendiri," ujarnya.

Pengetahuan tentang penanganan dan pertolongan pertama untuk kondisi kejiwaan juga akan sangat membantu di lingkungan rumah dan keluarga. Sebab seringkali gangguan kejiwaan hanya dipahami sebagai penyakit psikosomatik atau kambuhan saja.

Padahal banyak dari gangguan kejiwaan dirasakan setiap hari dan setiap saat, seperti gejala-gejala fisik depresi dan kecemasan yang membuat orang merasa lelah sepanjang waktu, kesemutan, tekanan di bagian-bagian tubuh dan leher serta kepala, gangguan kognitif, konsentrasi dan fokus; tidak peduli seberapa banyak istirahat atau makanan yang dikonsumsi.

Pendekatan yang tidak praktis dan tidak membangun justru bisa memberatkan kondisi kejiwaan. Pendekatan yang penuh pengetahuan dan objektif lebih dibutuhkan orang-orang dengan gangguan kejiwaan.

Jumat, 11 November 2016

Nutrisi Untuk Bipolar

Lemak Omega-3

Sumber makanan yang paling kaya omega-3 adalah ikan seperti salmon, sarden, dan haring.

Survey menunjukkan bahwa semakin tinggi populasi pemakan ikan di sebuah negara maka semakin rendah tingkat depresinya.

Dalam sebuah studi yang mencoba memperkirakan berbagai penyakit berhubungan dengan rendahnya kadar asam lemak omega-3, gangguan bipolar muncul di posisi atas sebagai penyakit nomor satu yang berkaitan dengan kurangnya asupan lemak omega-3.

Omega-3 membantu membangun koneksi syaraf dan juga tempat penerima bagi neurotransmitter, sehingga lebih omega-3 terdapat dalam darah, semakin banyak pula serotonin yang dibuat oleh tubuh dan semakin responsif tubuh dan otak kita terhadap efek serotonin tersebut.

Seimbangkan kadar gula darah

Semua makanan berkarbohidrat dipecah menjadi glukosa dan otak kita membutuhkan glukosa untuk bekerja. Semakin tak seimbang gula darah, maka mood atau suasana hati juga akan tidak seimbang.

Mengkonsumsi banyak gula akan memberikan peningkatan dan penurunan energi yang tiba-tiba dan drastis karena jumlah glukosa dalam darah. Gejala-gejalanya bisa ditandai dengan kelelahan, mudah gelisah dan marah, pusing, insomnia, keringat berlebih (terutama saat malam), konsentrasi buruk dan mudah lupa, haus berlebihan, depresi dan sering menangis, gangguan pencernaan dan pandangan kabur.

Karena otak bergantung pada persediaan glukosa yang genap dan seimbang, tidak mengejutkan ketika diketahui gula telah dikaitkan dengan perilaku agresif, kecemasan, depresi, dan kelelahan.

Mengkonsumsi banyak gula dan karbohidrat murni seperti roti putih, nasi, mi, pasta dan sebagian besar makanan olahan, juga berkaitan dengan depresi karena makanan-makanan ini tak hanya memberi sedikit sekali persediaan nutrisi tapi juga terlalu banyak menggunakan vitamin B yang berguna untuk memperbaiki suasana hati (mengubah setiap satu sendok gula menjadi energi membutuhkan vitamin B). Gula juga sangat boros menggunakan nutrisi-nutrisi lain yang penting.

Hindari makanan-makanan ini dan coba mulailah kebiasaan mengkonsumsi makanan utuh, buah dan sayuran segar, serta sebisa mungkin hindari makanan olahan. Kafein dan alkohol juga sebaiknya dikurangi hingga jumlah minimum.

Magnesium

Magnesium adalah mineral yang membantu mengelola fungsi normal otot dan syaraf, menjadi irama detak jantung, membantu sistem kekebalan tubuh dan menjaga tulang tetap kuat.

Beberapa tanda kekurangan magnesium antara lain: otot gemetar atau kejang, kelemahan otot, insomnia, kegugupan, tekanan darah tinggi, detak jantung tak teratur, konstipasi atau sembelit, sawan, hiperaktivitas, depresi, kebingungan dan menurunnya selera makan.

Peran magnesium cukup menarik dalam kasus gangguan bipolar, karena kemiripan kimiawinya dengan lithium yang sering digunakan sebagai penstabil mood. Terdapat bukti bahwa lithium bisa menempel pada tempat-tempat di dalam sel dimana magnesium juga bisa menempel di tempat serupa.

Ada beberapa studi yang menunjukkan magnesium dapat menghentikan gejala-gejala mania atau siklus yang cepat. Magnesium dapat memblokir kalsium yang terlalu banyak kedalam sel yang bisa menganggu fungsi jantung dan otak.

Magnesium juga dapat membantu memperbaiki kualitas tidur. Terutama karena penderita bipolar sering mengalami pola tidur yang buruk setelah episode manic.

Magnesium banyak terdapat dalam sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, ikan, gandum utuh, alpukat, yogurt, pisang, buah kering, dark chocolate, dan banyak lagi.

Selasa, 08 November 2016

Orang Yunani Kuno Menyebut Bipolar Sebagai Bakat Ilahiah

Dua penyakit pertama yang dideskripsikan oleh para dokter di masa Yunani klasik adalah "mania" yang merupakan campuran dari kemarahan, amukan, dan euforia, dan "melancholia" yang ditandai dengan kesedihan.

Jules Angst dan Andreas Marneros menulis sebuah makalah yang menelusuri tulisan-tulisan kuno untuk observasi gangguan bipolar. Mereka menemuka bahwa ulasan dari manuskrip-manuskrip masa pra-Hippocratic mengungkapkan deskripsi "kondisi-kondisi tak wajar depresi dan rasa keagungan." Dengan kata lain, susana hati super tinggi dan super rendah.

Hippocrates (460-337 SM) dikenal sebagai "Bapak Ilmu Kedokteran" dan dokter masa kini masih melakukan tradisi mengambil sumpah Hippocratic. Beliau berteori bahwa otak adalah organ yang bertanggungjawab atau fungsi dan gangguan kejiwaan. Dia menulis,
"Orang harus tahu bahwa otak adalah satu-satunya asal kenikmatan dan kesenangan, tawa dan canda, kesedihan dan kekhawatiran begitu juga ketidakpuasan, dan yang membedakan antara merasa malu, baik, buru, bahagia ... Melalui otak kita menjadi gila, marah, kita mengembangkan kecemasa dan ketakutan, yang dapat terjadi di malah ataupun siang hari, kita mederita kurang tidur, kita membuat kesalahan dan kecemasan yang tak berdasar, kita kehilangan kemampuan untuk mengenali realitas, kita menjadi apatis dan kita tidak dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial ... Kita menderita semua yang disebutkan diatas melalui otak ketika dia sakit..."
Menurut Socrates dan Plato, mania adalah "kondisi ilahiah." Bahkan Plato menulis bahwa ada dua jenis mania, yang satu melibatkan "ketegangan mental yang muncul dari sumber lahiriah" dan yang satunya lagi adalah "ilahiah atau terinspirasi, dengan dewa Apollo sebagai sumber dari inspirasi itu."

Filsuf Democritus bertanya pada Hippocrates, "Mengapa orang-orang luarbiasa dalam dunia filosofi, politik atau seni bersifat melankolis?" Setelah banyak berdiskusi, Hippocrates menyimpulkan bahwa Democritus tidak menderita melankolia, melainkan bahwa dia memang sekedar orang yang jenius.

Sabtu, 05 November 2016

Seorang Profesor Psikiatri Meminta Istilah "Skizofrenia" Dihilangkan


Istilah "skizofrenia" yang memiliki konotasi sebuah penyakit otak kronis yang tak bisa disembuhkan harusnya dihilangkan dan diganti dengan sebutan seperti "sindrom spektrum psikosis," argumen dari seorang profesor psikiatri dalam situs kesehatan BMJ.com Feburari 2016 lalu.

Profesor Jim van Os di Pusat Medis Universitas Maastricht mengatakan banyak kondisi lainnya yang telah meminta pembaharuan klasifikasi psikiatri, terutama untuk istilah "skizofrenia." Jepang dan Korea Selatan telah berhenti menggunakan istilah ini.

Daftar resmi gangguan kejiwaan yang digunakan para dokter untuk mendiagnosa pasien bisa ditemukan dalam ICD-10 (International Classification of Diseases, revisi ke-10) dan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi ke-5).

Namun Profesor van Os berargumen bahwa klasifikasi tersebut rumit, terutama untuk penyakit psikotik.

Saat ini penyakit psikotik digolongkan bersama banyak kategori lain, termasuk skizofrenia, gangguan skizoafektif, gangguan delusi, depresi atau gangguan bipolar dengan fitur psikotik, dan lain-lain, dia menjelaskan.

Tapi kategori-kategori ini "tidak mewakili diganosa penyakit terselubung, karena masih tidak diketahui; mereka cenderung mendeskripsikan bagaimana gejala bisa dikelompokkan, agar bisa mengelompokkan pasien."

Dokter biasanya akan berkata, "Kamu punya gejala psikosis dan mania, dan kita mengklasifikasikan itu sebagai gangguan skizoafektif." Jika gejala psikotik kamu hilang kita bisa menggolongkan ulang kondisinya menjadi gangguan bipolar. Jika di sisi lain gejala mania kamu hilang dan psikosismu menjadi kronis, kita bisa mendiagnosa ulang itu sebagai skizofrenia.

"Begitulah sistem kalsifikasi kita bekerja [saat ini]. Kia tidak cukup tahu untuk mendiagnosa penyakit yang sesungguhnya, sehingga kita menggunakan sistem klasifikasi berdasarkan gejala."

Jika semua orang setuju dengan pengistilahan dalam ICD-10 dan DSM-5 dalam penalaran ini, maka tidak ada masalah, ujarnya. Namun, bukan seperti ini yang secara umum dikomunikasikan, terutama untuk kategori yang paling penting penyakit psikotik: skizofrenia.

Contohnya, Asosiasi Psikiatri Amerika yang menerbitkan DSM, dalam situsnya menjelaskan skizofrenia sebagai "sebuah gangguan otak yang kronis," dan jurnal-jurnal akademis mendeskripsikannya sebagai "gangguan syaraf yang melemahkan," sebuah "gangguan otak yang menghancurkan hidup dan berpotensi tinggi untuk diwariskan," atau sebagai sebuah "gangguan otak dengan sebagian besar faktor resiko genetis."

Bahasa seperti ini mengesankan sebuah penyakit otak genetis yang khusus, tulis van Os. Namun anehnya, tidak ada ungkapan-ungkapan seperti ini digunakan untuk kategori penyakit psikotik lainnya, meskipun mereka ada dalam 70% daftar penyakit psikotik.

Bukti ilmiah mengindikasikan bahwa kategori psikotik yang berbeda dapat dipandang sebagai bagian dari sindrom spektrum psikotik yang sama, dia menambahkan. Lagipula orang-orang dengan sindrom spektrum psikosis menunjukkan keragaman yang ekstrim (heterogeneity), baik antara kelompok orang yang berbeda maupun di kelompok yang sama, dalam psikopathologi, respon terhadap perawatan, dan hasil perawatan.

Dia percaya bahwa cara terbaik untuk memberitahu masyarakat dan memberikan diagnosa terhadap pasien adalah dengan melupakan skizofrenia yang "menghancurkan hidup" sebagai satu-satunya kategori yang penting "dan mulailah bersikap adil pada sindrom spektrum psikosis yang lebih luas dan heterogenus atau beragam yang ada dan nyata."

Dan dia berargumen bahwa ICD-11 nanti harus menghilangkan istilah "skizofrenia."

Referensi jurnal: Jim van Os. “Schizophrenia” does not exist. BMJ, 2016; i375 DOI: 10.1136/bmj.i375

Penyusutan Struktur Otak Menjelaskan Kesulitan Kognitif Pada Penderita Bipolar

Menggunakan fMRI, sebuah studi melaporkan hubungan antara aktivasi fungsional yang menurun dengan ketebalan kortikal di otak penderita gangguan bipolar. Ketidaknormalan ini ditemukan pada pasien ketika tidak mengalami depresi ataupun mania, sehingga berarti terdapat basis strukutral untuk perubahan pada pemrosesan neural yang dapat menjelaskan mengapa penurunan kognitif tetap terjadi bahkan saat suasana hati normal.

Dalam studi pertama yang menaksir hubungan antara data MRI struktural dan fungsional pada gangguan bipolar, Dr. Shantanu Joshi dan kolega-koleganya di Universitas California, Los Angeles berfokus pada bagian-bagian otak yang berperan dalam disregulasi suasana hati pada gangguan ini. Mereka menguji otak 45 pasien bipolar dalam kondisi suasana hati terkendali atau tidak sedang berada dalam salah satu episode depresi maupun mania, dan 45 orang yang sehat.

Saat melakukan tugas yang dimaksudkan untuk mengaktifkan bagian-bagian spesifik otak, para pasien mengalami penurunan aktivasi, dibandingkan dengan kelompok orang yang sehat, dalam dua bagian otak yang berperan kritis untuk kendali penghambatan tindakan impulsif: inferior frontal cortex dan anterior cingulate cortex. Para pasien juga mengalami penurunan aktivasi di bagian superior frontal gyrus, bagian yang penting untuk perencanaan motorik dan pembuatan keputusan.

credit: wikipedia
MRI struktural mengungkap penyusutan ketebalan kortikal di bagian yang sama: inferior frontal cortex, anterior cingulate cortex, dan superior frontal gyrus. Aktivasi anterior cingulae cortex berhubungan dengan ketebalan kortikal.

"Area-area otak ini bisa jadi menyelubungi beberapa kesulitan kognitif yang dialami pasien bipolar yang bahkan sedang tidak mengalami episode suasana hati," Dr. Joshi berkata. Sampai studi ini dilakukan, sebelumnya peneliti memiliki memiliki wawasan yang sedikit tentang penyebab terselubung dari aktivitas otak fungsional yang abnormal dalam gangguan bipolar. Penemuan ini mendukung gagasan bahwa penurunan aktivasi pada bagian-bagian otak yang bertanggungjawab untuk kendali pencegahan dapat menjelaskan kecenderungan impulsif yang ada pada gangguan bipolar.

"Karena perubahan-perubahan ini terlihat pada pasien-pasien yang sedang tidak mengalami episode mood, ini bisa merefleksikan kelemahan yang berlanjut berhubungan denga pathofisiologi dari gangguan suasana hati parah yang melumpuhkan dan umum ini."

Menurut Dr. Joshi, studi ini memiliki implikasi potensial untuk menemukan tanda khas pencitraan struktur-fungsi yang dikenal sebagai biomarker untuk gangguan bipolar yang dapat digunakan untuk menambah informasi bagi studi-studi lebih lanjut di masa depan.

Referensi jurnal: Relationships Between Altered Functional Magnetic Resonance Imaging Activation and Cortical Thickness in Patients With Euthymic Bipolar I Disorder. Biological Psychiatry: Cognitive Neuroscience and Neuroimaging, 2016; 1 (6): 507 DOI: 10.1016/j.bpsc.2016.06.006

Jumat, 04 November 2016

Sumber Fisikal Depresi Didalam Otak Ditemukan

credit: University of Warwick
Jaringan medial (berhubungan dengan reward atau rasa penghargaan, OFC13) dan lateral (berhubungan dengan non-reward atau rasa tidak mendapat penghargaan, OFC47/12) orbitofrontal cortex yang menunjukkan hubungan fungsional yang berbeda pada pasien penderita depresi.
Pemahaman tentang akar fisikal dari depresi mendapatkan kemajuan berkat penelitian oleh Universitas Warwick, UK, dan Universitas Fudan, Shanghai, Cina.

Studi ini menunjukkan bahwa depresi memengaruhi bagian otak yang berkaitan dengan non-reward atau pandangan yang tak berharga/berfaedah, yaitu di bagian lateral orbitofrontal cortex, sehingga penderita merasakan sensasi kekalahan dan kekecewaan karena tak dihargai.

Area otak ini yang menjadi aktif ketika penghargaan tak diperoleh, juga berhubungan denga bagian otak yang terlibat dalam pemahaman atau penginderaan seseorang tentang dirinya sendiri, sehingga berpotensi mengarah pada pemikiran-pemikiran tentang kekalahan pribadi dan rendah diri.

Depresi juga dikaitkan dengan penurunan konektivitas antara area penghargaan di area otak medial orbitofrontal cortex dan sistem memori dalam otak, yang bisa menyebabkan penderita mengalami penurunan daya fokus terhadap kenangan-kenangan yang positif dan bahagia.

Penemuan-penemuan baru ini dapat memberikan penerobosan baru dalam perawatan depresi, dengan meneliti ke akar dari penyakit tersebut, dan membantu orang-orang dengan depresi untuk berhenti berfokus pada pemikiran negatif.

Studi ini dilaksanakan oleh Profesor Edmund Rolls dari Universitas Warmick, Profesor Jianfeng Feng juga dari Warmick dan Dr Wei Cheng dari Universitas Fudan di Shanghai, dan juga beberapa pusat penelitian di Cina.

Dalam studi yang cukup besar-besaran ini, hampir 1,000 orang di Cina melewati proses pemindaian otak menggunakan MRI presisi tinggi, yang menganalisa hubungan-hubungan antara medial dan lateral orbitofrontal cortex, yaitu bagian-bagian otak manusia yang terpengaruhi oleh depresi.

Profesor Jianfeng Feng mengatakan bahwa depresi menjadi semakin merata: "Lebih dari satu diantra sepuluh orang dalam hidupnya menderita depresi, penyakit yang begitu umum di masyarakat modern sehingga kita bahkan bisa menemukan sisa-sisa Prozac (antidepresan) dalam air keran di London."

"Penemuan kami, dengan kombinasi data besar yang kami kumpulkan di seluruh dunia dan metode baru kami, memungkinkan kami untuk melokasikan akar depresi yang sekiranya dapat membuka cara-cara baru untuk perawatan terapeutik yang lebih baik dalam waktu dekat untuk penyakit yang mengerikan ini."

Profesor Edmund Rolls berharap penelitian ini dapat mengarah pada bentuk-bentuk perawatan baru: "Penemuan-penemuan baru tentang bagaimana depresi berhubungan dengan hubungan-hubungan fungsional yang berbeda dari orbitofrontal cortex memiliki implikasi bagi perawatan berdasarkan teori penarik non-reward dari depresi."

Referensi jurnal: "Medial reward and lateral non-reward orbitofrontal cortex circuits change in opposite directions in depression." Brain, 2016; aww255 DOI